Kalau sudah cukup lama berkecimpung di dunia bisnis, satu hal yang hampir pasti pernah dirasakan adalah lelah bersaing. Bukan cuma capek fisik, tapi bisa jadi capek secara mental.
Apalagi melihat kompetitor makin banyak, harga makin ditekan, dan pelanggan terasa makin tidak setia.
Hari ini beli di kita, besok pindah ke tempat lain karena selisihnya cuma beberapa ribu rupiah.
Di titik itulah biasanya orang mulai mendengar dua istilah ini: Red Ocean Strategy dan Blue Ocean Strategy.
Kedengarannya keren, seolah kita tinggal memilih warna laut, lalu bisnis akan berjalan lebih mudah. Tapi kenyataannya? Dua strategi ini jauh lebih membumi daripada sekadar teori di buku.
Apa yang Dimaksud Red Ocean?
Red Ocean adalah kondisi yang paling sering kita temui.
Pasarnya sudah ada, pemainnya banyak, aturannya jelas, dan semua orang tahu cara mainnya.
Contoh paling gampang adalah bisnis laundry kiloan di area kos-kosan. Hampir semua menawarkan hal yang mirip, yaitu cuci bersih, wangi, cepat, harga bersaing.
Kalau satu tempat pasang harga murah, yang lain ikut menurunkan. Kalau toko A buka 24 jam, yang lain mulai menyesuaikan.
Di Red Ocean, bisnis hidup dari efisiensi dan kecepatan adaptasi.
Tidak ada yang salah. Banyak usaha besar justru tumbuh di sini.
Tapi konsekuensinya terpampang jelas. Bisnis jadi punya margin tipis, tekanannya tetap tinggi, dan harus selalu siap menghadapi pemain baru.
Apa Itu Blue Ocean?
Sebaliknya, Blue Ocean sering digambarkan sebagai pasar baru yang masih “sepi”. Bukan karena tidak ada pelanggan, tapi karena belum ada yang menyasar mereka dengan cara yang tepat.
Contohnya bisa kita lihat pada bisnis kopi beberapa tahun lalu.
Saat sebagian besar kedai fokus pada nongkrong dan WiFi, muncul konsep kopi literan untuk dibawa pulang.
Bukan ide yang rumit, tapi sudut pandangnya berbeda. Kedai tersebut menyasar orang yang ingin minum kopi di rumah atau kantor tanpa ribet.
Awalnya terlihat aneh. Tapi karena relevan dengan kebutuhan tertentu, pasarnya terbentuk sendiri.
Menariknya, banyak orang mengira Blue Ocean selalu berarti sesuatu yang benar-benar baru. Padahal tidak selalu begitu. Kadang yang berubah hanya cara melihat masalah.
Contoh lain adalah bisnis katering diet. Makan sehat sudah lama ada, tapi dulu dianggap mahal dan ribet.
Ketika ada brand yang mengemasnya dengan bahasa lebih santai, menu familiar, dan sistem langganan fleksibel, pasar yang tadinya terasa sempit jadi jauh lebih luas.
Namun di sisi lain, Blue Ocean juga punya risiko yang sering diremehkan. Karena pasarnya belum “terbiasa”, biaya edukasi bisa tinggi. Tidak semua orang langsung paham kenapa produk kita penting.
Banyak bisnis dengan ide unik akhirnya tumbang bukan karena idenya buruk, tapi karena kehabisan napas sebelum pasarnya matang.
Pilih Perang Bisnis di “Samudera” Mana?
Karena itu, dalam praktiknya, dunia bisnis jarang hitam-putih. Banyak pelaku usaha justru berada di area abu-abu.
Ada yang memulai di Red Ocean untuk memastikan arus kas, lalu perlahan menciptakan diferensiasi. Ada juga yang awalnya Blue Ocean, tapi ketika ditiru banyak kompetitor, akhirnya berubah menjadi Red Ocean versi baru.
Ambil contoh jasa digital marketing. Dulu, hanya sedikit yang paham.
Sekarang? Hampir semua orang bisa mengklaim dirinya digital marketer. Pasarnya ramai, persaingannya pun ketat.
Namun di tengah keramaian itu, masih ada pelaku yang fokus ke ceruk tertentu, misalnya UMKM daerah atau bisnis properti.
Secara teknis, masih di Red Ocean, tapi pendekatannya sudah mulai mengarah ke Blue Ocean kecil-kecilan.
Itulah kenapa pertanyaan terpenting sebenarnya bukan “pilih Blue Ocean atau Red Ocean”, melainkan sejauh mana kita memahami posisi bisnis kita sendiri.
Apakah kita sedang butuh bertahan? Atau sedang punya ruang untuk bereksperimen?
Lalu apakah target pasar kita benar-benar jelas, atau hanya ikut-ikutan tren?
Memahami Posisi Bisnis Sendiri
Bagi pebisnis dan investor, memahami perbedaan ini membantu mengelola ekspektasi.
Tidak semua bisnis harus revolusioner. Termasuk, tidak semua juga harus ikut perang harga.
Kadang, keputusan terbaik adalah tetap di pasar ramai, tapi dengan cara main yang lebih sadar dan terukur.
Kalau Anda tertarik membaca perspektif bisnis, investasi, dan strategi yang dibahas secara kontekstual, Anda bisa menemukan banyak sudut pandang menarik di marymacrealtor.com.
.Isinya bukan janji cepat kaya, melainkan bahan pertimbangan sebelum mengambil langkah besar.
Pada akhirnya, baik Red Ocean maupun Blue Ocean hanyalah alat bantu berpikir. Yang menentukan bukan warnanya, tapi keputusan sadar di balik setiap langkah bisnis. Dan itu, tidak bisa digantikan oleh teori apa pun.