Banyak orang masuk ke dunia investasi dengan niat baik. Ingin uangnya bekerja, ingin masa depan lebih aman, atau sekadar tidak mau ketinggalan dibanding teman-temannya.
Masalahnya, niat baik sering kali bertabrakan dengan realitas yang tidak seindah cerita di media sosial.
Grafik naik turun terlihat menarik. Testimoni cuan pun terdengar meyakinkan. Tapi di balik semua itu, ada fase yang jarang dibicarakan. Baik itu fase bingung, ragu, maupun salah langkah.
Sebagian besar investor pemula tidak langsung rugi karena pasar.
Mereka rugi karena keputusan yang terlalu manusiawi. Entah emosional, tergesa, atau kurang persiapan.
Berikut 6 kesalahan yang sering terjadi, dan hampir selalu dialami di awal perjalanan investasi.
1. Masuk karena Takut Ketinggalan, Bukan karena Paham
Awalnya sederhana. Ada obrolan di grup WhatsApp. Terselip unggahan soal cuan. Ada grafik yang kelihatannya “tinggal naik”.
Lalu muncul pikiran, “Kalau aku nggak ikut sekarang, nanti nyesel.”
Inilah FOMO (fear of missing out). Keputusan diambil bukan karena mengerti, tapi karena takut jadi satu-satunya yang tidak ikut.
Yang jadi masalah, keputusan seperti ini jarang punya rencana. Tidak tahu kapan harus beli, apalagi kapan harus keluar.
Begitu harga bergerak berlawanan, rasa yakin langsung berubah jadi cemas. Bukan karena asetnya jelek, tapi karena sejak awal tidak ada pegangan.
2. Tidak Pernah Benar-Benar Bertanya: Investasi Ini Buat Apa?
Banyak investor pemula memulai tanpa tujuan yang jelas. Tidak tahu apakah uang ini untuk jangka pendek, menengah, atau panjang. Pokoknya investasi dulu, urusan nanti belakangan.
Padahal tujuan itu seperti kompas. Tanpa tujuan, sedikit gejolak saja bisa membuat arah berubah total.
Hari ini niat jangka panjang, besok ingin cepat cair. Hari ini tahan, besok panik.
Tujuan tidak harus rumit. Cukup tahu bahwa uang ini dipakai kapan, dan seberapa besar risiko yang sanggup ditanggung.
3. Kaget Saat Nilai Turun, Lalu Merasa “Salah Pilih”
Ini juga sering terjadi. Banyak pemula secara tidak sadar menganggap investasi seperti tabungan versi lebih canggih. Mereka berharap grafik selalu naik, atau setidaknya tidak turun jauh.
Saat kenyataan tidak sesuai harapan, muncul rasa kecewa. Lalu merasa salah pilih instrumen, salah ikut rekomendasi, atau bahkan menyalahkan diri sendiri.
Padahal turun itu bagian dari proses. Bukan tanda gagal, tapi ujian mental.
Kalau setiap penurunan langsung terasa seperti bencana, kemungkinan besar profil risikonya belum cocok.
4. Terlalu Aktif, Padahal Tidak Punya Strategi
Ada tipe pemula yang sangat rajin memantau. Pagi cek, siang cek, malam cek. Sedikit naik senang, sedikit turun pun gelisah.
Masalahnya, aktivitas tinggi tanpa strategi jarang menghasilkan hasil yang baik.
Terlalu sering jual beli biasanya didorong emosi, bukan rencana. Biaya transaksi bertambah, fokus hilang, dan keputusan juga makin impulsif.
Ironisnya, banyak keuntungan justru datang dari kesabaran, bukan dari kecepatan.
5. Percaya Rekomendasi, Tapi Tidak Percaya Diri Sendiri
Rekomendasi bukan hal buruk. Masalah muncul saat rekomendasi menjadi satu-satunya pegangan. Investor membeli sesuatu tanpa tahu apa yang mereka pegang.
Saat harga turun, tidak ada alasan kuat untuk bertahan. Yang ada hanya rasa takut dan kebingungan. Akhirnya jual, bukan karena strategi, tapi karena tidak sanggup melihat merah lebih lama.
Belajar dasar investasi bukan soal jadi pintar. Namun, agar punya alasan sendiri saat harus bertahan atau melepas.
6. Merasa Aman karena “Sudah All In”
Ini mungkin kesalahan paling mahal. Menaruh seluruh dana di satu instrumen dengan keyakinan tinggi, seolah semakin berani maka hasilnya akan sebanding.
Ketika berhasil, rasanya luar biasa. Tapi saat gagal, dampaknya bukan hanya keuangan, melainkan juga mental!
Banyak yang berhenti investasi bukan karena tidak cocok. Mereka akhirnya stop karena mengalami trauma di awal.
Manajemen risiko itu bukan soal takut rugi. Tapi soal memastikan satu kesalahan tidak menghancurkan semuanya.
Investasi Itu Soal Sikap
Tidak ada investor yang langsung rapi dan disiplin sejak awal. Hampir semua belajar lewat kesalahan.
Bedanya, ada yang berhenti setelah salah, sedangkan yang lainnya berhenti sejenak lalu belajar.
Investasi bukan tentang seberapa cepat untung, tapi seberapa lama bisa bertahan tanpa kehilangan akal sehat.
Jika ingin membaca pembahasan investasi, strategi bisnis, dan sudut pandang keuangan yang lebih membumi, Anda bisa menemukan berbagai artikel relevan di marymacrealtor.com.
Di sini bukan tempat mencari janji cepat kaya, tetapi ruang untuk memahami keputusan finansial dengan lebih dewasa.