Hampir semua pelaku UMKM pernah sampai di titik ini.
Order mulai ramai. Pesan chat masuk tidak berhenti. Waktu pun terasa selalu kurang. Akhirnya muncul satu pikiran yang terdengar logis sekaligus menakutkan, “Kayaknya sudah waktunya rekrut karyawan.”
Di satu sisi, ini tanda usaha berkembang.
Namun di sisi lain, rekrut karyawan bukan cuma soal nambah tangan. Ada tanggung jawab, biaya, dan konsekuensi yang sering kali baru terasa setelah semuanya berjalan.
Banyak UMKM tumbang bukan karena kurang laku, tapi karena terlalu cepat menambah orang tanpa persiapan yang cukup.
Sebelum pasang lowongan atau minta rekomendasi kenalan, setidaknya ada 5 hal penting yang sebaiknya dipikirkan dengan jujur.
1. Pastikan Masalahnya Benar-Benar Kekurangan Orang, Bukan Sistem yang Berantakan
Ini kesalahan yang sering tidak disadari.
Usaha terasa kewalahan, lalu solusinya langsung tambah karyawan. Padahal, akar masalahnya kadang bukan kurang tenaga, melainkan alur kerja yang belum rapi.
Contohnya:
- Order masuk dari banyak channel tapi tidak tercatat rapi.
- Pekerjaan sering diulang karena miskomunikasi.
- Owner masih mengerjakan semua hal sendirian tanpa prioritas.
Kalau sistem masih acak, karyawan baru justru bisa menambah kekacauan. Mereka bingung harus mengerjakan apa, pemilik makin stres karena harus menjelaskan ulang, dan produktivitas tidak naik signifikan.
Sebelum merekrut orang, coba rapikan cara kerja dulu. Kadang, satu perubahan alur bisa menghemat tenaga setara satu orang.
2. Hitung Biaya Nyata, Bukan Cuma Gaji Bulanan
Gaji sering jadi fokus utama, tapi bukan satu-satunya biaya.
Karyawan juga butuh waktu training dan alat kerja, terkadang melakukan kesalahan awal yang wajar, hingga menguras perhatian dan energi mental owner.
Di bulan-bulan awal, jangan berharap karyawan langsung meringankan beban. Sering kali justru sebaliknya: pemilik kerja dua kali, sambil mengawasi dan membimbing.
Kalau arus kas UMKM masih tipis dan belum stabil, tambahan biaya ini bisa terasa berat.
Merekrut karyawan seharusnya memperkuat usaha, bukan bikin napas makin pendek.
3. Tentukan Peran dengan Jelas, Jangan “Nanti Lihat Saja”
Salah satu sumber konflik paling sering di UMKM adalah jobdesk yang kabur.
Hari ini disuruh A, besok B, lusa tiba-tiba C. Dari sudut pandang pemilik, ini fleksibilitas. Dari sisi karyawan, ini justru kebingungan.
Sebelum rekrut, jawab satu pertanyaan sederhana:
“Masalah apa yang ingin Aku selesaikan dengan merekrut orang ini?”
Kalau jawabannya belum jelas, tunda dulu. Karyawan yang baik pun sulit berkembang kalau perannya tidak jelas sejak awal.
4. Siap Secara Mental Jadi Atasan, Bukan Cuma Pelaku Usaha
Ini bagian yang jarang dibicarakan.
Saat masih sendiri, semua keputusan ada di tangan kita. Namun ketika ada karyawan, dinamikanya pun berubah.
Ada orang lain yang bergantung pada keputusan kita. Bukan sekadar pekerjaannya, tapi juga penghasilannya.
Itu artinya, owner harus belajar cara komunikasi, mesti bisa memberi arahan tanpa emosi, serta wajib siap menerima kesalahan orang lain.
Tidak semua pelaku UMKM siap dengan peran ini di awal. Dan itu wajar. Yang tidak wajar adalah memaksakan diri tanpa sadar perubahan peran yang sedang terjadi.
5. Pertimbangkan Alternatif Selain Karyawan Tetap
Rekrut karyawan bukan satu-satunya pilihan, loh. Bagi UMKM yang masih berkembang, pertimbangkan alternatif seperti freelancer, tenaga paruh waktu (part-time), pekerja proyek atau bantuan keluarga secara profesional.
Semua itu bisa jadi solusi sementara yang lebih fleksibel.
Pilihan ini memberi ruang belajar untuk memahami apakah usaha kita benar-benar butuh tambahan orang secara permanen, atau hanya di momen tertentu saja.
Naik kelas itu proses, bukan loncatan.
Pahami Ini Sebelum Rekrut Karyawan
Merekrut karyawan merupakan sebuah langkah besar, bahkan untuk UMKM kecil sekalipun. Ini bukan tanda “sudah sukses”, tapi tanda bahwa usaha sedang berubah fase.
Tidak ada keputusan yang benar atau salah secara mutlak. Yang ada, keputusan yang siap dan yang terburu-buru.
Ingin lebih memahami bisnis, UMKM, dan strategi bertumbuh dengan pendekatan yang realistis? Banyak pembahasan relevan bisa Kamu temukan di marymacrealtor.com.
Bisnis kecil tidak harus tumbuh cepat. Tapi kalaupun tumbuh, pastikan bertumbuh dengan pondasi yang kuat.